Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

The Demon


Peluh mengucur di tengah gelapnya perempatan di daerah padalaman yang mampu mengambil alih kuasa ketegangan Demian. Dibukanya kotak kecil yang telah berisi perlengkapan ‘kesepakatan’. Entah sejak kapan ia memercayai legenda ‘perpanjangan umur’ ini.

“Kau tidak serius akan melakukannya, bukan?”

“Kau tidak pernah tahu rasa tersiksa karena penyakit yang belum ditemukan obatnya.” Wajah Demian nampak pucat menatap sisa-sisa bekas suntikan di tubuhnya yang semakin banyak setiap harinya lewat remang cahaya bulan.

“Kau punya Tuhan.”

Hanya sunggingan sinis terpancar dari wajah pucat itu. Sesosok pemuda yang tak rela masa depannya ‘sia-sia’. “Dia tidak ada.”

Berdiplomasi dengan hati tanpa petunjuk dari-Nya sama dengan kesia-siaan belaka.

Pepohonan rindang di samping jalan mendadak tak bergerak. Seperti membeku seketika. Embusan napas Demian semakin pelan, ia merasakan getaran tepat di tempatnya berdiri saat ini. Hening berubah murka, angin kencang mendadak menyerbu. Demian tersungkur gelagapan.

“Pemuda malang, kau tahu resikonya?” Sesosok wanita cantik dengan gaun hitam menyapa. Ia hadir, ia benar-benar datang, legenda itu bukan bualan belaka.

Demian masih gelagapan, mencoba mengatasi keterkejutannya.

“Jika iblis secantik ini, bagaimana bisa banyak orang meninggalkannya,” lirih Demian.

“Kami berterima kasih, Demian. Kau telah memanggilku, itu artinya kepercayaan pada kami dari manusia sepertimu masih berlaku. Baiklah, kau punya segalanya kini. Kau memilih menyerahkan urusan ini pada kami dan kau mendapatkan apa yang kau mau.”

“Lalu, mana resiko yang kau maksud?”

“Bukan kejutan namanya jika aku beri tahu sekarang, Demian. Nikmati saja hidup barumu.” Uluran tangan gadis bergaun hitam tersebut disambut Demian. Telapak tangan itu terasa begitu dingin. Baiklah, itu berarti ….

Hitam. Gelap. Demian merasakan tubuhnya terhempas, terasa begitu berat. Tak terkendali. Dalam benaknya, tertawa penuh kemenangan, ia telah mampu melewatinya. Dia mengalahkan sang waktu, bukan? Hidupnya tidak akan berakhir secepat itu.

“Demian?”

Mata itu terbuka perlahan, sekeliling berubah dari hitam menjadi normal. Ia mengenali tempat itu, kamar pribadinya. Tentu itu bukan mimpi. Iblis itu membawanya dengan cara misterius dari perempatan tempat ia memohon 'kesepakatan'.

“Aku tak akan meninggalkanmu, Sayang.” Bisikan demi bisikan datang membuat Demian tidak mengerti. Siapa yang tak akan meninggalkan siapa? Suara wanita bergaun hitam itu ....

Tanpa sadar langkah Demian berhenti pada sebuah ranjang. Mana mungkin? Tubuh terbujur kaku itu? Lelaki itu tak mengerti, bagaimana bisa.

“Iblis menantimu di neraka.”

“Kesepakatan itu?”

“Bodoh. Sejak kapan Tuhan kalah dengan iblis?” Sesosok hitam semakin mendekat.

Demian Terkesiap. Tak bisa sembunyi ataupun lari. Tepat pada saat itu, detik itu juga, kejadian yang dialami Demian bersamaan dengan luruhnya sehelai daun dari rantingnya di atas sana. Tertulis nama Demian pada daun itu.

Catatan di lauh mahfudz tak pernah bisa diakali.

Selasa, 05 Januari 2016

Lukisan di Rumah Emily

Sumber gambar: www.myhostingmall.com

Lebah di dalam lukisan atau lukisan berhias lebah? Entahlah bagaimana menyebutnya. Berkali-kali menatap lukisan yang dipajang di ruang tamu milik keluarga Emily membuatku tidak bisa tidur nyanyak. Padahal itu hanya sebuah lukisan. Kata Emily, gadis berambut pirang yang pendiam itu, lukisannya berasal dari pamannya di kota sebelah. Tebakanku pun benar, bahwa lelaki yang sedang ketakutan dengan kedua tangan menahan sesosok lebah raksasa berwarna hitam pekat dengan dihiasi totol-totol putih yang kontras pada punggungnya yang seolah sedang melompat ke arahnya itu ialah potret pamannya.

"Dari pandanganku lukisan ini memang indah, namun sangat menakutkan dan tidak cocok untuk dijadikan hadiah dalam sebuah pesta pernikahan. Ada-ada saja pamanmu." Komentar yang kulontarkan berkali-kali itu hanya dibalas dengan senyum oleh Emily, dia memang bukan tipe teman yang banyak bicara.

Aku mengenal Emily setahun yang lalu, sejak ibu mengajak pindah ke kota kecil yang asri ini. Tadinya aku keberatan meninggalkan tempat tinggal lamaku karena takut tidak akan betah di sini. Namun sebaliknya, meskipun Emily pendiam, dia adalah teman yang pengertian dan tahu kapan ia harus berpendapat. Satu yang masih membuatku bertanya-tanya, Emily tertutup sekali soal keluarganya.

Semakin sering aku berbicara tentang lukisan, Emily menunjukkan kekurangsukaannya. Setahun perkenalan kami sepertinya tak cukup membuatku mengerti sosoknya yang sedikit misterius. Bahkan aku baru tahu dia menyimpan seperangkat kuas beserta kanvas lengkap dengan cat warna di bawah ranjangnya. Padahal tak kujumpai selembarpun lukisan buatannya--atau belum.

"Kenapa pamanmu mau menjadi korban dalam lukisannya?" tanyaku membuat Emily tersentak. Tidak, bukan, kisah ini tidak berakhir dengan kenyataan bahwa pamannya benar-benar terjebak dalam lukisan. Lebih dari itu kejadian berikutnya membuatku menyesal seumur hidup karena pindah ke kota ini. Kota lukisan dengan pelukis yang berperan dalam lukisannya sendiri. 

Di belahan bumi yang lain seseorang sedang menyaksikan proyeksi sebuah lukisan gadis yang nampak kebingungan menatap lukisan lebah bersama gadis berambut pirang.

November 2015