Minggu, 13 Maret 2016

Kehidupan Kedua



Ketika mulai membuka mata, seulas senyum tersungging dari bibirku yang sedari tadi terkatup menahan kata-kata kasar serta sumpah serapah balasan yang memberontak ingin keluar. Kembang kempis dadaku mulai normal seiring sapuan pandangan pada tiap sudut tempat ini. Kukatakan untuk diriku sendiri, inilah kehidupan yang sebenarnya, yang memberi arti berbeda dan pemahaman yang luas. Tak melulu tentang mulut kasar wanita berumur lima tahun di atasku itu. Wanita yang lebih pantas menjadi kakakku.

Pantulan sinar perak di permukaan air laut seperti melambai-lambai ingin menyuruhku untuk mengarunginya. Tentu saja, aku akan datang, hanya butuh perahu untuk tiba di sana. Bahkan aku ingin sekali tinggal lebih lama. Meninggalkan kehidupan yang membosankan ini. Dulu ibu pernah berkata bahwa tempat paling mengerikan adalah neraka. Bukan. Ibu salah. Tempat paling mengerikan adalah rumah.

Terkadang aku bergumam pada Tuhan, ingin bertemu ibu pada salah satu tempat yang sering kukunjungi. Walaupun Tuhan sepertinya belum menjawab, aku tidak pernah marah. Setidaknya aku tidak mati berdiri di rumahku sendiri akibat ulah wanita itu.

Sebuah perahu hendak berlabuh, pikirku itu pasti perahu milik nelayan seperti biasanya. Kupicingkan mata memastikan. Seseorang turun dan begitu selesai menambatkan perahu di tepi pantai ia berjalan ke arahku. Dari perawakannya sama sekali tak nampak sosok pelaut yang biasanya berkulit agak gelap karena tamparan sinar matahari setiap hari. Atau bisa jadi dia seorang pangeran yang dikirim Tuhan untuk menemani kesepianku ini? Ya Tuhan, igauan apa ini?

Parasnya tidak biasa, seperti bukan penduduk asli tempat ini. Aku hafal betul. Tingginya pasti lebih dari 165 cm. Semakin dekat, raut mukanya semakin jelas. Aku tidak percaya ada lelaki sesempurna itu. Dia membuatku hanyut dalam sekali pandang. Astaga ....

"KAU ... BISA-BISANYA DUDUK SANTAI DI SINI." Sebuah teriakan bersamaan dengan cengkeraman kuat di rambutku membuatku terkejut dan seketika menjatuhkan benda di tangan. Tanpa permisi wanita itu telah memasuki kamarku dan memperlakukanku bak budak yang tak tahu diri. Ya Tuhan, kupikir kisah tentang ibu tiri hanya ada di sinetron.

Pemuda tadi ..., terpaksa aku meninggalkannya. Kuambil buku yang baru saja kubaca sambil menahan rasa pening di kepala. Sebuah pembatas sempat kutempatkan pada halaman tepat di mana pemuda itu sedang menghampiri tokoh wanita yang sedang duduk bersandar pada pohon di tepi pantai.

Sumber gambar: ngadem.com


Tegal, Desember 2015

0 komentar:

Posting Komentar