Senin, 11 Januari 2016

Sudut Asing





Sudut-sudut yang baru kukenal beberapa hari, yang kutahu hingga kemarin lusa, sebelum status itu berubah, tempat sejenis ini hanya kudatangi tiap perutku berontak karena kosong. Itupun yang kulihat adalah menu-menu yang siap untuk disantap. Tanpa tahu bagaimana Ibu membuatnya.

Kepala mendadak pening, mengingat kemarin baru saja aku salah memasukkan lengkuas pada nasi goreng yang akan kuhidangkan pada orang terkasih.

Bau rempah-rempah ditumis menyadarkanku yang masih berdiri menatap sudut-sudut ruang yang penuh dengan perabot asing. Alat-alat dapur. Kuremas pelan buku dan pulpen di tangan tanpa sadar hingga mengeluarkan suara.

"Nak? Kau baik-baik saja?" tanya wanita dengan mata teduh sambil membalikkan badan menatapku lamat-lamat.

Aku tercekat, menyunggingkan senyum lalu mendekati beliau. Tangan beliau sedang memegang--entah apa sebutannya, sudah kubilang segala perabotan di ruangan ini adalah asing bagiku. Beliau menumis bumbu yang sedari tadi mengeluarkan bau harum. 

"Mah, tolong ajari saya memasak," ucapku menahan malu. Namun jika terus malu, bisa jadi suamiku akan merasakan lengkuas tak hanya di nasi goreng. Jangan-jangan pada sayur sop. Oh, tidak.

Wanita pemilik mata teduh yang kini kupanggil mamah itu tersenyum kembali menatapku. Maafkan menantumu ini, Mah, yang begitu payah dalam urusan dapur.

Tegal, 13/08/2015

0 komentar:

Posting Komentar