Rabu, 06 Januari 2016

[Resensi] Perjalanan Spesialis Penyelesai Konflik




Judul Buku: Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Cover: Resoluzy
Lay Out: Alfian
Cetakan: VI, November 2015
Tebal: iv+ 400 halaman
ISBN: 978-602-082-212-9
Peresensi: Anis Marzela

Blurb:

"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

****

Kedatangan Tauke Muda, kepala Keluarga Tong ke talang Rimba Sumatra yang seolah-olah ingin berburu ternyata membawa sebuah misi. Perjanjian masa lalu. Ia datang untuk menjemput Bujang, remaja berumur 15 tahun. Remaja yang kelak ketika ia dewasa dan telah melalui sebuah proses panjang menjadi lelaki yang ketika disebut namanya maka gentar orang yang mendengarnya, bahkan seorang presiden sekalipun.

Kepergian Bujang ke Kota Provinsi tanpa diantar lambaian tangan dari mamak serta tanpa pelukan dari bapaknya. Kelak, ia akan tahu tentang kisah masa lalu, hari ini, serta masa depan yang saling berkelindan.

Sejak menjadi anggota Keluarga Tong, tak ada definisi pulang bagi Bujang. Karena ia merasa Keluarga Tong-lah rumahnya. Di tempat itu ia tak hanya dididik menjadi seorang tukang pukul seperti bapaknya dulu, lebih dari itu kelak ia menjadi tukang pukul nomor satu yang berpendidikan, cerdas, penuh perhitungan serta perincian. Spesialis penyelesai konflik nomor satu. Menariknya, Bujang kelak juga berjuang untuk memahami hakekat pulang sebenarnya. Tentang bagaimana ia mampu memeluk erat masa lalu, kebencian, kesakitan, serta ketakutan.

Tere Liye kembali menyuguhkan kisah menarik bernuansa action dalam novel Pulang. Jika ditilik dari judulnya, mungkin ada beberapa pembaca yang akan sedikit terkecoh tak mengira bahwa isinya dipenuhi adegan-adegan menegangkan.

Karakter tokoh Bujang mengingatkan pada tokoh Thomas di dua novel sebelumnya, Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Sama-sama memiliki karakter kuat, pantang menyerah dan pejuang kesetiaan. Jika pada novel sebelumnya Tere Liye membongkar konspirasi para mafia, maka di novel ini Tere Liye juga mengangkat sebuah konspirasi, tentang penguasa shadow economy, ekonomi bayangan yang akan membuat pembaca bertanya-tanya, apakah ini nyata atau hanya fiktif.

"Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang-orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kami tidak dikenali oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tidak diliput di media massa. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap semua sandiwara kehidupan orang-orang." (Hal. 30)

Jika pasukan militer milik pemerintah punya prosedur saat hendak menyerang, ada negoisasi dan tahapan-tahapan, lain halnya dengan kami. Sekali kami jengkel, seluruh desa asal perompak itu bisa dihabisi. Mereka menahan kapal kamu, maka kami akan menahan seluruh keluarganya. Mereka melukai awak kapal kami, maka kami akan melukai seluruh keluarganya. (Hal. 196)

Kepiawaian Tere Liye yang tak perlu diragukan lagi berhasil menggiring penikmat novel Pulang untuk ikut hanyut dalam cerita. Salah satunya merasakan sensasi bagaimana Bujang dan dua gadis kembar dari Jepang terlontar dari gedung satu ke gedung sebelahnya yang berjarak lima puluh meter pada ketinggian lantai dua puluh lima.

Alur maju-mundur yang digunakan Tere Liye dalam mengisahkan perjalanan Bujang begitu smooth, setiap bab memiliki lanjaran cerita dengan bab lainnya, jadi tak ada hal bernama tempelan pada novel ini. Amat terlihat pula bahwa penulisan novel ini melewati riset yang mendalam.

Bukan Tere Liye jika di dalam karyanya tanpa memuat pesan perihal pemahaman kehidupan. Semenjak Bujang masih tinggal bersama Mamak dan Bapak, banyak hal yang ia alami, pesan-pesan Mamak yang membawanya menuju hakekat arti kepulangan. Hingga sebuah penghianatan terhadap Keluarga Tong yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga mereka. Lalu, akankah Bujang berhasil mengatasi semua musuh-musuhnya? Bagaimana dengan musuh terbesar dalam hidupnya, yakni dirinya sendiri. Kemudian, di manakah benang merah tentang sebuah kepulangan? Novel Pulang akan menjawab semua pertanyaan itu dengan bahasa lugas, ringan dan tanpa menggurui.

Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit. (Hal. 345)

Masih pada istilah tak ada gading yang tak retak, novel ini memiliki sedikit kekurangan. POV 1 yang digunakan Tere Liye sedari awal mendadak kehilangan konsistensinya pada beberapa bagian. Salah satunya yang mencolok ialah pada halaman 351. Bagaimana bisa Bujang yang saat itu sedang berkomunikasi melalui telepon dengan White, salah satu sahabatnya, bisa tahu bahwa White sedang menggaruk kepala. Kedua, masih di halaman yang sama, begitu Bujang menutup telepon, diceritakan bahwa White sedang meletakkan gagang telepon lalu berteriak memanggil koki dan pelayan restorannya.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Tere Liye tetap menjadi salah satu penulis dalam negeri yang karya-karyanya berhasil memukau dan membuka pemahaman perihal kehidupan pada pembacanya lewat muatan religi serta pesan moral yang dikemas begitu apik. Begitu memulai membaca halaman pertama, segera ingin menamatkan, begitu tamat, pembaca akan berharap keluar sekuel novel Pulang selanjutnya.

Tegal, 18 Desember 2015

0 komentar:

Posting Komentar