Sering sekali saya melihat resep-resep makanan, camilan, minuman serta jajanan-jajanan berseliwaran di beranda FB. Penampilannya saya katakan memang berhasil menggoda siapapun yang melihatnya. Ah dunia maya, memang hanya mampu menggoda, mencicipi postingan kuliner pun tidak mungkin, bukan? Banyak pula komentar antusias ingin mempraktekkan resep tersebut. Tapi saya bukanlah salah satu di antaranya.
Menjalani kehidupan dengan menyukai hal-hal instan, termasuk mie instan, karena saya adalah salah satu alumni penghuni kost selama lebih dari tiga tahun, membuat saya menggelengkan kepala untuk hal-hal yang terlihat repot, rumit, ribet bin capek. Salah satunya masak-memasak. Sebelum membayangkan susahnya membedakan mana merica mana ketumbar, mana jahe mana laos, terlebih dahulu saya kesulitan membayangkan berkeliling pasar yang penuh pengunjung pagi-pagi sekali untuk berbelanja. Belum lagi jika di pasar tradisional, lelahnya tawar-menawar harga. Lagi-lagi saya katakan tidak. Tak sampai di situ, bahan-bahan mentah dari pasar yang beralih ke dapur harus diolah sedemikian rupa, meraciknya dengan pas. Dilarang keasinan, pun kurang asin. Dan setelah berlelah-lelah makanan itu akan habis dalam sekali makan yang tak lebih dari 30 menit memakannya, saya rasa itu bukan imbalan yang pas mengingat jungkir baliknya ketika memasak. Sampai di sini saya sama sekali belum paham di mana letak asyik dan seru serta syahdunya memasak.
Untuk kesekian kalinya saya katakan tidak dan memilih untuk membeli makanan jadi. Jika di rumah pun, yang saya tahu ialah makanan matang yang sudah tersedia di meja makan setiap kali perut berontak karena lapar.
Adakah sahabat pembaca mengalami hal tersebut? Postingan ini tidak hanya berisi tentang saya yang anti masak-memasak lalu sudah dan selamanya saya akan membeli makanan matang kecuali masakan ibu saya. Tidak akan berhenti di sini.
Tunggu dulu, dua paragraf awal di atas ialah hal yang saya rasakan dulu. Dulu. Tepatnya sebelum delapan bulan yang lalu. Perasaan seorang jomblo yang pernah galau karena resah perihal jodoh yang belum bertamu. Perasaan tersebut berubah delapan puluh derajat semenjak seseorang mengubah hidup serta status jomblo milik saya menjadi tak jomblo lagi (ah lebay).
Agaknya boleh dikatakan sedikit terlambat saya memahami spesialnya menjadi seorang ibu yang memasak untuk keluarganya. Saya memahaminya justru setelah saya menikah dan tak sesering dulu merasakan lezatnya masakan ibu yang telah dibuatnya dengan cinta setiap harinya. Tapi tak apa, terkadang terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali, bukan?
Tak saya pungkiri tentang kesulitan membedakan mana merica dan mana ketumbar, mana jahe dan mana laos, sampai melibatkan suami perihal urusan dapur. Bersyukurnya saya karena dianugerahi seorang suami super sabar dan penuh kasih sayang serta pengertian. Memasak bagi saya memanglah sebuah perjuangan panjang demi mendapat seporsi atau lebih hidangan yang nantinya akan saya nikmati bersama suami. Pada awalnya saya tidak yakin. Benarkan saya mau belajar memasak? Jungkir balik mengenali bau rempah-rempah agar tak salah meracik bumbu? Lalu mengalahkan rasa malu pada suami karena pada kenyataannya beliau jauh lebih pandai memasak? Saya tidak yakin sampai pada akhirnya takdir memaksa saya memasak atau mau menyaksikan suami saya akan kelelahan jika memasak setelah bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Akankah saya sejahat itu?
Duhai, salah satu nasehat Rasulullah kepada Fathimah Azzahra juga sempat menjadi renungan bagi saya yang punya mimpi menjadi seorang istri shalihah meski saya sadar masih teramat jauhlah saya dari gelar itu. Ialah ketika Fathimah ra menangis akibat tangannya yang terluka ketika menggiling gandum untuk suaminya. Rasul berkata, "Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah Azza wa Jalla menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat."
Betapa dhoifnya jika saya tetap berjalan pada prinsip keinstanan dan sama sekali tak mau belajar memasak hanya karena tak mau merasa lelah dan repot. Bagaikan sebuah tamparan didaratkan pada jiwa saya dan membuat saya terbangun.
Di dalam prosesnya yang sederhana, karena masakan yang saya masak pun memang terbilang sederhana, ternyata selalu menyimpan kebersamaan antara kami. Salah satu yang baru saya sadari, bahwa ada perasaan bahagia yang tak ternilai harganya, entah bagaimana menyebutnya, ketika hasil masakan kita dinikmati orang-orang terkasih. Melihat mereka tetap lahap tanpa mencela rasa, meskipun saya dan mereka sama-sama tahu bahwa rasa masakan saya masih jauh dari lezat apalagi sempurna seperti masakan kedua ibu saya. Itulah harga yang terbayar, itulah jawaban dari pertanyaan awal saya, imbalan apa yang mereka dapat dari memasak, merepotkan dan melelahkan diri di dapur. Kebahagiaan. Ketika kita melakukan sesuatu dengan keikhlasan dan kasih sayang, tak akan ada perasaan bernama kelelahan dan kerepotan. Terakhir, di mana letak asyik, seru serta syahdunya memasak? Ialah di sini, dalam hati.
Tegal, 11 Januari 2016



