Senin, 11 Januari 2016

Buat Apa Repot dan Capek Memasak?


Sering sekali saya melihat resep-resep makanan, camilan, minuman serta jajanan-jajanan berseliwaran di beranda FB. Penampilannya saya katakan memang berhasil menggoda siapapun yang melihatnya. Ah dunia maya, memang hanya mampu menggoda, mencicipi postingan kuliner pun tidak mungkin, bukan? Banyak pula komentar antusias ingin mempraktekkan resep tersebut. Tapi saya bukanlah salah satu di antaranya.

Menjalani kehidupan dengan menyukai hal-hal instan, termasuk mie instan, karena saya adalah salah satu alumni penghuni kost selama lebih dari tiga tahun, membuat saya menggelengkan kepala untuk hal-hal yang terlihat repot, rumit, ribet bin capek. Salah satunya masak-memasak. Sebelum membayangkan susahnya membedakan mana merica mana ketumbar, mana jahe mana laos, terlebih dahulu saya kesulitan membayangkan berkeliling pasar yang penuh pengunjung pagi-pagi sekali untuk berbelanja. Belum lagi jika di pasar tradisional, lelahnya tawar-menawar harga. Lagi-lagi saya katakan tidak. Tak sampai di situ, bahan-bahan mentah dari pasar yang beralih ke dapur harus diolah sedemikian rupa, meraciknya dengan pas. Dilarang keasinan, pun kurang asin. Dan setelah berlelah-lelah makanan itu akan habis dalam sekali makan yang tak lebih dari 30 menit memakannya, saya rasa itu bukan imbalan yang pas mengingat jungkir baliknya ketika memasak. Sampai di sini saya sama sekali belum paham di mana letak asyik dan seru serta syahdunya memasak.

Untuk kesekian kalinya saya katakan tidak dan memilih untuk membeli makanan jadi. Jika di rumah pun, yang saya tahu ialah makanan matang yang sudah tersedia di meja makan setiap kali perut berontak karena lapar.

Adakah sahabat pembaca mengalami hal tersebut? Postingan ini tidak hanya berisi tentang saya yang anti masak-memasak lalu sudah dan selamanya saya akan membeli makanan matang kecuali masakan ibu saya. Tidak akan berhenti di sini.

Tunggu dulu, dua paragraf awal di atas ialah hal yang saya rasakan dulu. Dulu. Tepatnya sebelum delapan bulan yang lalu. Perasaan seorang jomblo yang pernah galau karena resah perihal jodoh yang belum bertamu. Perasaan tersebut berubah delapan puluh derajat semenjak seseorang mengubah hidup serta status jomblo milik saya menjadi tak jomblo lagi (ah lebay).



Agaknya boleh dikatakan sedikit terlambat saya memahami spesialnya menjadi seorang ibu yang memasak untuk keluarganya. Saya memahaminya justru setelah saya menikah dan tak sesering dulu merasakan lezatnya masakan ibu yang telah dibuatnya dengan cinta setiap harinya. Tapi tak apa, terkadang terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali, bukan?

Tak saya pungkiri tentang kesulitan membedakan mana merica dan mana ketumbar, mana jahe dan mana laos, sampai melibatkan suami perihal urusan dapur. Bersyukurnya saya karena dianugerahi seorang suami super sabar dan penuh kasih sayang serta pengertian. Memasak bagi saya memanglah sebuah perjuangan panjang demi mendapat seporsi atau lebih hidangan yang nantinya akan saya nikmati bersama suami. Pada awalnya saya tidak yakin. Benarkan saya mau belajar memasak? Jungkir balik mengenali bau rempah-rempah agar tak salah meracik bumbu? Lalu mengalahkan rasa malu pada suami karena pada kenyataannya beliau jauh lebih pandai memasak? Saya tidak yakin sampai pada akhirnya takdir memaksa saya memasak atau mau menyaksikan suami saya akan kelelahan jika memasak setelah bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Akankah saya sejahat itu?

Duhai, salah satu nasehat Rasulullah kepada Fathimah Azzahra juga sempat menjadi renungan bagi saya yang punya mimpi menjadi seorang istri shalihah meski saya sadar masih teramat jauhlah saya dari gelar itu. Ialah ketika Fathimah ra menangis akibat tangannya yang terluka ketika menggiling gandum untuk suaminya. Rasul berkata, "Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah Azza wa Jalla menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat."

Betapa dhoifnya jika saya tetap berjalan pada prinsip keinstanan dan sama sekali tak mau belajar memasak hanya karena tak mau merasa lelah dan repot. Bagaikan sebuah tamparan didaratkan pada jiwa saya dan membuat saya terbangun.

Di dalam prosesnya yang sederhana, karena masakan yang saya masak pun memang terbilang sederhana, ternyata selalu menyimpan kebersamaan antara kami. Salah satu yang baru saya sadari, bahwa ada perasaan bahagia yang tak ternilai harganya, entah bagaimana menyebutnya, ketika hasil masakan kita dinikmati orang-orang terkasih. Melihat mereka tetap lahap tanpa mencela rasa, meskipun saya dan mereka sama-sama tahu bahwa rasa masakan saya masih jauh dari lezat apalagi sempurna seperti masakan kedua ibu saya. Itulah harga yang terbayar, itulah jawaban dari pertanyaan awal saya, imbalan apa yang mereka dapat dari memasak, merepotkan dan melelahkan diri di dapur. Kebahagiaan. Ketika kita melakukan sesuatu dengan keikhlasan dan kasih sayang, tak akan ada perasaan bernama kelelahan dan kerepotan. Terakhir, di mana letak asyik, seru serta syahdunya memasak? Ialah di sini, dalam hati.

Tegal, 11 Januari 2016

Sudut Asing





Sudut-sudut yang baru kukenal beberapa hari, yang kutahu hingga kemarin lusa, sebelum status itu berubah, tempat sejenis ini hanya kudatangi tiap perutku berontak karena kosong. Itupun yang kulihat adalah menu-menu yang siap untuk disantap. Tanpa tahu bagaimana Ibu membuatnya.

Kepala mendadak pening, mengingat kemarin baru saja aku salah memasukkan lengkuas pada nasi goreng yang akan kuhidangkan pada orang terkasih.

Bau rempah-rempah ditumis menyadarkanku yang masih berdiri menatap sudut-sudut ruang yang penuh dengan perabot asing. Alat-alat dapur. Kuremas pelan buku dan pulpen di tangan tanpa sadar hingga mengeluarkan suara.

"Nak? Kau baik-baik saja?" tanya wanita dengan mata teduh sambil membalikkan badan menatapku lamat-lamat.

Aku tercekat, menyunggingkan senyum lalu mendekati beliau. Tangan beliau sedang memegang--entah apa sebutannya, sudah kubilang segala perabotan di ruangan ini adalah asing bagiku. Beliau menumis bumbu yang sedari tadi mengeluarkan bau harum. 

"Mah, tolong ajari saya memasak," ucapku menahan malu. Namun jika terus malu, bisa jadi suamiku akan merasakan lengkuas tak hanya di nasi goreng. Jangan-jangan pada sayur sop. Oh, tidak.

Wanita pemilik mata teduh yang kini kupanggil mamah itu tersenyum kembali menatapku. Maafkan menantumu ini, Mah, yang begitu payah dalam urusan dapur.

Tegal, 13/08/2015

Rabu, 06 Januari 2016

[Resensi] Perjalanan Spesialis Penyelesai Konflik




Judul Buku: Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Cover: Resoluzy
Lay Out: Alfian
Cetakan: VI, November 2015
Tebal: iv+ 400 halaman
ISBN: 978-602-082-212-9
Peresensi: Anis Marzela

Blurb:

"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

****

Kedatangan Tauke Muda, kepala Keluarga Tong ke talang Rimba Sumatra yang seolah-olah ingin berburu ternyata membawa sebuah misi. Perjanjian masa lalu. Ia datang untuk menjemput Bujang, remaja berumur 15 tahun. Remaja yang kelak ketika ia dewasa dan telah melalui sebuah proses panjang menjadi lelaki yang ketika disebut namanya maka gentar orang yang mendengarnya, bahkan seorang presiden sekalipun.

Kepergian Bujang ke Kota Provinsi tanpa diantar lambaian tangan dari mamak serta tanpa pelukan dari bapaknya. Kelak, ia akan tahu tentang kisah masa lalu, hari ini, serta masa depan yang saling berkelindan.

Sejak menjadi anggota Keluarga Tong, tak ada definisi pulang bagi Bujang. Karena ia merasa Keluarga Tong-lah rumahnya. Di tempat itu ia tak hanya dididik menjadi seorang tukang pukul seperti bapaknya dulu, lebih dari itu kelak ia menjadi tukang pukul nomor satu yang berpendidikan, cerdas, penuh perhitungan serta perincian. Spesialis penyelesai konflik nomor satu. Menariknya, Bujang kelak juga berjuang untuk memahami hakekat pulang sebenarnya. Tentang bagaimana ia mampu memeluk erat masa lalu, kebencian, kesakitan, serta ketakutan.

Tere Liye kembali menyuguhkan kisah menarik bernuansa action dalam novel Pulang. Jika ditilik dari judulnya, mungkin ada beberapa pembaca yang akan sedikit terkecoh tak mengira bahwa isinya dipenuhi adegan-adegan menegangkan.

Karakter tokoh Bujang mengingatkan pada tokoh Thomas di dua novel sebelumnya, Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Sama-sama memiliki karakter kuat, pantang menyerah dan pejuang kesetiaan. Jika pada novel sebelumnya Tere Liye membongkar konspirasi para mafia, maka di novel ini Tere Liye juga mengangkat sebuah konspirasi, tentang penguasa shadow economy, ekonomi bayangan yang akan membuat pembaca bertanya-tanya, apakah ini nyata atau hanya fiktif.

"Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang-orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kami tidak dikenali oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tidak diliput di media massa. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap semua sandiwara kehidupan orang-orang." (Hal. 30)

Jika pasukan militer milik pemerintah punya prosedur saat hendak menyerang, ada negoisasi dan tahapan-tahapan, lain halnya dengan kami. Sekali kami jengkel, seluruh desa asal perompak itu bisa dihabisi. Mereka menahan kapal kamu, maka kami akan menahan seluruh keluarganya. Mereka melukai awak kapal kami, maka kami akan melukai seluruh keluarganya. (Hal. 196)

Kepiawaian Tere Liye yang tak perlu diragukan lagi berhasil menggiring penikmat novel Pulang untuk ikut hanyut dalam cerita. Salah satunya merasakan sensasi bagaimana Bujang dan dua gadis kembar dari Jepang terlontar dari gedung satu ke gedung sebelahnya yang berjarak lima puluh meter pada ketinggian lantai dua puluh lima.

Alur maju-mundur yang digunakan Tere Liye dalam mengisahkan perjalanan Bujang begitu smooth, setiap bab memiliki lanjaran cerita dengan bab lainnya, jadi tak ada hal bernama tempelan pada novel ini. Amat terlihat pula bahwa penulisan novel ini melewati riset yang mendalam.

Bukan Tere Liye jika di dalam karyanya tanpa memuat pesan perihal pemahaman kehidupan. Semenjak Bujang masih tinggal bersama Mamak dan Bapak, banyak hal yang ia alami, pesan-pesan Mamak yang membawanya menuju hakekat arti kepulangan. Hingga sebuah penghianatan terhadap Keluarga Tong yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga mereka. Lalu, akankah Bujang berhasil mengatasi semua musuh-musuhnya? Bagaimana dengan musuh terbesar dalam hidupnya, yakni dirinya sendiri. Kemudian, di manakah benang merah tentang sebuah kepulangan? Novel Pulang akan menjawab semua pertanyaan itu dengan bahasa lugas, ringan dan tanpa menggurui.

Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit. (Hal. 345)

Masih pada istilah tak ada gading yang tak retak, novel ini memiliki sedikit kekurangan. POV 1 yang digunakan Tere Liye sedari awal mendadak kehilangan konsistensinya pada beberapa bagian. Salah satunya yang mencolok ialah pada halaman 351. Bagaimana bisa Bujang yang saat itu sedang berkomunikasi melalui telepon dengan White, salah satu sahabatnya, bisa tahu bahwa White sedang menggaruk kepala. Kedua, masih di halaman yang sama, begitu Bujang menutup telepon, diceritakan bahwa White sedang meletakkan gagang telepon lalu berteriak memanggil koki dan pelayan restorannya.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Tere Liye tetap menjadi salah satu penulis dalam negeri yang karya-karyanya berhasil memukau dan membuka pemahaman perihal kehidupan pada pembacanya lewat muatan religi serta pesan moral yang dikemas begitu apik. Begitu memulai membaca halaman pertama, segera ingin menamatkan, begitu tamat, pembaca akan berharap keluar sekuel novel Pulang selanjutnya.

Tegal, 18 Desember 2015

Selasa, 05 Januari 2016

Lukisan di Rumah Emily

Sumber gambar: www.myhostingmall.com

Lebah di dalam lukisan atau lukisan berhias lebah? Entahlah bagaimana menyebutnya. Berkali-kali menatap lukisan yang dipajang di ruang tamu milik keluarga Emily membuatku tidak bisa tidur nyanyak. Padahal itu hanya sebuah lukisan. Kata Emily, gadis berambut pirang yang pendiam itu, lukisannya berasal dari pamannya di kota sebelah. Tebakanku pun benar, bahwa lelaki yang sedang ketakutan dengan kedua tangan menahan sesosok lebah raksasa berwarna hitam pekat dengan dihiasi totol-totol putih yang kontras pada punggungnya yang seolah sedang melompat ke arahnya itu ialah potret pamannya.

"Dari pandanganku lukisan ini memang indah, namun sangat menakutkan dan tidak cocok untuk dijadikan hadiah dalam sebuah pesta pernikahan. Ada-ada saja pamanmu." Komentar yang kulontarkan berkali-kali itu hanya dibalas dengan senyum oleh Emily, dia memang bukan tipe teman yang banyak bicara.

Aku mengenal Emily setahun yang lalu, sejak ibu mengajak pindah ke kota kecil yang asri ini. Tadinya aku keberatan meninggalkan tempat tinggal lamaku karena takut tidak akan betah di sini. Namun sebaliknya, meskipun Emily pendiam, dia adalah teman yang pengertian dan tahu kapan ia harus berpendapat. Satu yang masih membuatku bertanya-tanya, Emily tertutup sekali soal keluarganya.

Semakin sering aku berbicara tentang lukisan, Emily menunjukkan kekurangsukaannya. Setahun perkenalan kami sepertinya tak cukup membuatku mengerti sosoknya yang sedikit misterius. Bahkan aku baru tahu dia menyimpan seperangkat kuas beserta kanvas lengkap dengan cat warna di bawah ranjangnya. Padahal tak kujumpai selembarpun lukisan buatannya--atau belum.

"Kenapa pamanmu mau menjadi korban dalam lukisannya?" tanyaku membuat Emily tersentak. Tidak, bukan, kisah ini tidak berakhir dengan kenyataan bahwa pamannya benar-benar terjebak dalam lukisan. Lebih dari itu kejadian berikutnya membuatku menyesal seumur hidup karena pindah ke kota ini. Kota lukisan dengan pelukis yang berperan dalam lukisannya sendiri. 

Di belahan bumi yang lain seseorang sedang menyaksikan proyeksi sebuah lukisan gadis yang nampak kebingungan menatap lukisan lebah bersama gadis berambut pirang.

November 2015